Aqiqah itu sunnah yang dilaksanakan sejak anak dilahirkan hingga anak itu baligh. ini adalah pendapat yang paling umum. Apabila anak itu sudah baligh, gugurlah hukum sunah itu bagi walinya dan ketika itu hukum sunah berpindah pada anak itu sendiri, untuk melaksanakan aqiqah bagi dirinya sendiri.
Walaupun waktu yang disunnahkan untuk beraqiqah itu panjang, tetapi yang afdhal hendaklah dilakukan pada hari ketujuh dari kelahirannya. Sebagaimana dalam hadist dai Aisyah Radhiallahu 'anha, ia berkata : "Rasulullah SAW mengaqiqahkan Hasan dan Husain pada hari ke tujuh, memberikan kedua-duanya nama dan Baginda menyuruh supaya menghilangkan daripada keduanya kesakitan kepala (mencukur rambut kepala)." (HR al-Hakim)
Setelah penyembelihan dilaksanakan, disarankan untuk mengolah daging aqiqah itu terlebih dahulu sebelum di berikan, agar orang-orang miskin dan para tetangga yang menerimanya tidak merasa repot lagi memasaknya. Hal ini akan menambah kebaikan serta rasa syukur terhadap nikmat tersebut. Para tetangga, anak-anak serta orang-orang miskin dapat menikmati hidangan itu dengan gembira, karena orang yang menerima daging yang sudah dimasak, siap dimakan dan lezat rasanya tentu merasa lebih gembira dibandingkan pemberian daging mentah yang masih membutuhkan tenaga untuk mengolahnya. (Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud hal 75-76)
Masakan juga lebih afdhal lagi bila masakan diantarkan ke rumah. Tujuannya ialah untuk bertafa'ul (menaruh harapan baik) terhadap perangai dan budi anak yang diaqiqahkan. Kemudian daging yang telah dimasak itu diberikan kepada fakir miskin. Bisa dengan dihantar masakan itu kerumah-rumah mereka atau dijemput untuk hadir makan di rumah tempat pengaqiqah.







